Tak terasa, setengah jam kemudian perahu merapat ke sebuah dermaga kayu sederhana. Sang nakhoda akan menunggu kami di sini. Setidaknya untuk sementara kami selamat dari ketakutan akan tenggelam saat ini.
Saatnya melupakan perasaan cemas dengan melangkah keluar dari perahu. Dengan merapal kalimat-kalimat Ilahi, seluas mata memandang terhampar bentang alam yang mengelilingi Dusun Berua.
Gugusan bukit karst itu terasa dekat. Mereka berdiri kokoh di pinggiran pematang sawah, seakan menjadi benteng pelindung bagi kehidupan di dalamnya. Adang dan saudara kandungnya mengajak kami, yang terbius sesaat di tepi dermaga, untuk melanjutkan langkah. Mengembangkan daya eksplorasi di kampung yang sama sekali masih asing bagi kami.
Di atas jalan setapak yang membelah pematang sawah, kaki-kaki kami mulai resmi meninggalkan jejak di sini. Kepala kami rajin menengok kanan dan kiri. Mata dimanjakan dengan kesegaran dan kesejukan khas desa terpencil.
Saya biasa berjalan di atas pematang sawah seperti di belakang rumah nenekku. Tapi ini di Maros, di salah satu belahan nusantara. Tetap saja perasaan tak terkira mengiringi langkah saya di desa ini.

Kami berjalan sembari mendengarkan Adang bertutur tentang Rammang-rammang. Saudara kandungnya terkadang ikut menimpali, walau lebih sering menyimak dengan sebatang rokok berasap di sela jemarinya.
Kami sempat berhenti ketika melintasi sebuah rumah panggung yang sederhana. Di atas terasnya, sekelompok ibu-ibu sedang asyik bercengkerama. Kami saling berbalas sapa, berbalas senyum. Gigi mereka yang terlihat menunjukkan senyuman lebar yang tulus dan ikhlas. Kehangatan yang selalu terjadi di pelosok, bukti sahih bahwa ini masih di Indonesia.
Di belahan pematang sawah yang lain, kami berpapasan dengan seorang ibu berkemben kebaya yang menuntun anaknya berjalan. Mereka baru saja mandi dari mata air yang disebut Adang tak pernah kering sepanjang tahun.
Jelaslah mata air itu menjadi sumber penghidupan sekaligus pengharapan. Dengan air inilah mereka bisa mandi, minum, masak, mencuci dan juga bercocok tanam. Mereka sangat menghargai air. Saya bahkan tak jarang membuang botol air mineral yang masih ada sisa.
Saya tersentak. sudah berapa kali pelajaran kehidupan menimbuni otak kami, sejak tiba di persimpangan jalan Poros Maros subuh tadi.
* * *

Lalu Adang mengajak kami putar balik. Kami diajak berjalan kembali ke dermaga. Ini tandanya eksplorasi kami di Dusun Berua sudah cukup. Sepertinya Adang telah merencanakan sesuatu terhadap paket wisata yang kami pilih. Pilihannya adalah berangkat dengan perahu dan kembali ke dermaga dengan jalan kaki.
Kami tetap naik perahu dengan nakhoda yang sama. Namun, kami hanya berlayar separuh jalan. Pelayaran kecil kami berakhir di tepi sebuah permukiman. Kini, jalan kaki (trekking) adalah opsi satu-satunya untuk menuju akhir dari paket wisata ini.
Bagi saya pribadi, saya sangat menyukai kegiatan trekking seperti saat mendaki gunung. Membiarkan kaki menapak di atas tanah, bergumul dengan genangan air dan lumpur. Di sini, kami menemukan sesuatu yang tak terduga sebelumnya. Adang dan adiknya ibarat melengkapi perjalanan kami yang baru sebatas tertulis di kertas.
Tak terlalu jauh dari tempat perahu menurunkan kami, terdapat Telaga Bidadari yang airnya bening kebiruan menjadi persinggahan pertama. Saya dan para teman pria hanya menyaksikan tingkah kedua perempuan di rombongan kami, yang membasuh kaki layaknya bidadari dari kahyangan.
Setelahnya, berulang kali saya mendapati buah kelapa yang ranum. Saya membayangkan, akan sangat menyegarkan jika berkesempatan meneguk air kelapa dan melumat daging buahnya yang putih. Mungkin sudah takdir, Adang seperti membaca pikiran kami. Di sebuah petak sempit di antara pematang sawah, dia meminta seseorang memanjat pohon kelapa dan mengambil beberapa buahnya. Buk! Buk! Buk! Buah kelapa berjatuhan.
Kemudian sang pemanjat mengupas buah kelapa dengan goloknya yang sebesar lengan bawah agak berkarat. Masing-masing dari kami dapat bagian. Kesegaran alami kami teguk, demi menumpas dahaga siang. Saya bahkan tak cukup menghabiskan satu buah.
Hari semakin beranjak siang ketika kami meninggalkan sebuah goa karst. Sinar matahari bebas memapar ubun-ubun. Petak-petak sawah yang kering seakan menegaskan betapa teriknya siang ini. Namun, ternyata panas tak cukup mampu menggoyahkan hasrat kami untuk merekam momen dalam beberapa bingkai lensa. Sebuah tingkah yang sebenarnya sederhana saja, tetapi menyiratkan kenangan yang akan terus membekas dari hari ke hari.
Gugusan karst hitam yang berdiri renggang antara satu sama lain memikat kami. Gugusan karst itu sebenarnya juga terlihat dari jalan Poros Maros yang terik. Saya terkejut ketika Adang bercerita bahwa Maros ini dulunya adalah laut. Perubahan waktu dan cuaca global mungkin telah menyurutkan laut hingga seperti sekarang ini.
Gugusan karst inilah yang menjadi saksi perkasanya zaman purba silam. Jika boleh berandai, Maros seperti salah satu puing peradaban Atlantis yang tenggelam, lalu timbul kembali ke permukaan. Mungkin saja, biarlah alasan ilmiah itu dibuktikan oleh para ilmuwan. Mereka akan menjadi tidak berarti, jika saya bisa berbicara dengan dinding-dinding hitam itu, bertanya asal-usul karst hitam nan cadas itu.

Sepanjang perjalanan kembali ke arah dermaga, saya cukup banyak ngobrol dengan adiknya si Adang. Perawakan ceking dan rambut kriwul seperti menjadi pertanda, bahwa dia memang seorang pecinta alam. Pertanda itu benar, ketika dia berkata, “Saya pengin ke Gunung Rinjani, Semeru, dan Kerinci.” Tak cukup dia yang penasaran dengan gunung-gunung yang dia sebut. Selanjutnya, malah dia yang membuat saya penasaran dengan gunung-gunung di Sulawesi Selatan. “Kalau ke sini lagi, ayo saya ajak ke Bawakaraeng, Lompobattang, Latimojong.”
Saya hanya mengangguk. Mengamini.
* * *

Kami terus berjalan di atas jalan cor yang membelah pematang sawah Desa Salenrang, Bontoa, Maros ini. Jalan cor ini akan berujung di gapura desa persembahan salah satu operator telekomunikasi nasional.
Di gapura ini kami berpisah dengan Adang dan adiknya. Saya terkesan dengan kebersahajaannya. Salah seorang dari kami sempat memberikan uang tip untuk mereka, tapi mereka menolaknya. Adang mencegatkan mobil angkutan kota (angkot) berwarna biru muda untuk kami. Kami memang akan menyewa angkot itu untuk mengantarkan kami ke Leang-Leang dan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kerajaan kupu-kupu.
Angkot yang memang sedang kosong itu lalu melaju. Perlahan-lahan, gapura desa Salenrang tampak mengecil dari balik kaca angkot. Kami semakin menjauh dari Adang dan adiknya yang melambaikan tangan. Kemudian lenyap dengan samar-samar debu yang beterbangan.
Saya meminum air mineral beberapa teguk. Saya sadar, terlalu sebentar rupanya saat menyempatkan singgah di Rammang-rammang. Rasanya saya ingin merengek-rengek tak mau pulang. Rasanya tak rela ketika perjalanan masih harus terus berlanjut, meninggalkan kampung yang dihuni oleh para pemilik wajah-wajah yang damai. Sebuah kampung yang dilindungi dinding-dinding terjal dan dilalui rawa berair tenang. Sungguh, saya ingin kembali ke Dusun Berua itu suatu saat nanti, menikmati pergantian hari-hari entah untuk berapa lamanya. Berusaha menjadi ‘udik’ namun tetap terbuka dengan dunia. (*)
Foto sampul:
Dusun Berua yang dikepung karst Rammang-rammang
Tinggalkan Balasan