Sampai sekarang pun, perasaan tak percaya masih menyelimuti. Ketika itu, pertengahan 2014, kaki melangkah lebih jauh dari rumah. Bermalam di Pulau Kenawa, menikmati senja di Labuan Bajo, berjumpa komodo di “kampung halamannya”, dan menghabiskan empat malam di Kampung Komodo.
Hampir dua pekan penuh saya jauh dari rumah. Walaupun kadar petualangannya jelas tak selevel Agustinus Wibowo, atau kurang berpengalaman dibandingkan pejalan-pejalan lainnya. Tapi bagi saya pribadi, itu merupakan pencapaian tersendiri.
Saya masih ingat betul. Di atas kapal feri, dalam penyeberangan sore Labuan Bajo-Sape, uang tunai di dompet tersisa Rp 300 ribu, dari total tunai Rp 1,4 juta yang saya pegang untuk perjalanan pergi-pulang dua pekan. Uang segitu tak akan cukup membiayai biaya pulang dengan transportasi bus hingga ke Bali, apalagi ke Malang. Jantung sempat berdegup cukup cepat, keringat dingin mengucur. Bagaimana saya bisa pulang dengan uang segitu?
Beruntung. Satu di antara tiga truk ekspedisi pengangkut kemiri dari Bajawa, yang saat itu ikut menyeberang ke Sape, bersedia memberikan tumpangan. Walaupun tidak gratis. Walaupun waktu tempuh lebih lama. Di sinilah hikmahnya. Di sinilah keseruannya.
Sebanyak Rp 200 ribu saya berikan ke sopir truk termasuk rokok. Saya memilih turun di Pelabuhan Gilimanuk, Bali. Sementara ketiga truk ekspedisi tersebut meneruskan perjalanannya ke Surabaya, saya melanjutkan perjalanan pulang ke Malang lewat selatan. Dari sisa Rp 100 ribu, sebanyak Rp 68 ribu saya ambil untuk ongkos bus Banyuwangi-Jember dan Jember-Malang.
* * *
Hampir 1,5 tahun telah berlalu. Tak terasa.
Impresi pertama saat itu, ketika pertama menginjakkan kaki di Labuan Bajo dan Komodo adalah: saya jatuh cinta. Pada pandangan pertama. Seperti memasuki dunia lain. Memang panas, terik, dan cukup banyak keterbatasan. Tapi nyatanya, saya betah. Serasa pulang.
Labuan Bajo dan Komodo adalah pintu yang membuka penglihatan saya tentang salah satu sisi timur Indonesia. Bentang alam yang sangat indah dan penduduk lokal yang ramah.
Ada satu sisi lain. Indonesia timur seperti menjanjikan petualangan dan tantangan tiada akhir. Terlebih, saya sangat terobsesi untuk bertandang ke taman nasional-taman nasional yang ada di timur. Dan mengamati kehidupan penduduk lokal yang bersinggungan dengan keberadaan taman nasional. Setelah sebelumnya jatuh hati saat bertandang ke Gunung Bromo dan Gunung Semeru. Destinasi yang berada di taman nasional yang pertama kali saya kunjungi, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
Sepulang dari Komodo, saya berselancar di dunia maya. Masih dalam kondisi “tercuci otak” tentang Indonesia yang ketimuran.
Saya baru tahu saat itu. Betapa udiknya saya di tengah kemajuan Pulau Jawa. Selain Komodo dan Kelimutu, Nusa Tenggara Timur juga punya dua taman nasional lagi yang katanya terhitung baru ditetapkan. Tepatnya berlokasi di Pulau Sumba. Taman Nasional Laiwangi Wanggameti dan Manupeu-Tanah Daru. Melihat deskripsi potensi lanskap alam dan keragaman hayati di dalamnya, kaki malah gatal. Meminta untuk “disembuhkan” dengan pergi ke sana.
Merujuk pada peta Indonesia, perselancaran di dunia maya bergerak ke timur laut. Pertama singgah dulu ke pulau-pulau berserakan dalam satu wadah: Maluku. Ada Taman Nasional Aketajawe-Lolobata yang menjadi harapan hidup 24 jenis burung endemik Halmahera, Maluku Utara. Juga Taman Nasional Manusela di Kepulauan Maluku. Di sana bercokol Gunung Binaiya, sebagai salah satu gunung yang termasuk dalam konsep seven summits Indonesia.
Tapi Maluku juga bukan hanya itu. Ada Morotai, Halmahera, Ternate, Tidore, Ambon… Dan Banda Neira yang menjadi impian saya sejak lama. Melebihi angan tentang Raja Ampat dan sekitarnya.
Lalu perselancaran saya terhenti lebih lama di bumi cenderawasih. Papua.
Ada Taman Nasional Teluk Cenderawasih di Papua Barat. Ada Taman Nasional Wasur yang dekat dari Merauke, berjuluk “Serengeti”-nya Papua. Dan yang paling membuat kaki saya makin gatal: Taman Nasional Lorentz. Di sanalah Carstensz Pyramid (Puncak Jaya) berada. Puncak tertinggi di Indonesia yang didambakan pendaki. Impian saya cukup mustahil: melihat gletser tropika di puncaknya, yang kemungkinan besar akan lenyap akibat pemanasan global.
Perselancaran saya berakhir. Saya hanya bisa menganga dan meneguk air liur. Hanya bisa pasrah ketika membaca informasi yang tersedia tentang tempat-tempat tersebut. Tentang kesulitan aksesnya, keterbatasan transportasinya, ketidakpastian cuacanya. Saya mendapati kenyataan, bahwa sisi timur Indonesia tak akan mudah dicapai.
Pikiran mulai agak kacau dan meracau. Harus kerja apa ya saya, supaya bisa mengkhatamkan jejak di tempat-tempat itu? Saya bukanlah Malik bin Dinar yang ditolong Allah lewat keluarnya berkeping uang dinar emas dari mulut ikan di lautan.
* * *

Hingga kini, saya masih belum mampu kembali berjalan lebih jauh. Saya merindukan perjalanan seperti ke Sumbawa-Komodo kala itu. Seorang diri, menjemput petualangan dan tantangan di depan mata.
Entah daya magis apa yang ditawarkan Indonesia bagian timur. Seakan lebih terpanggil untuk pergi ke sana. Subjektif sekali.
Saya semakin teracuni ketika Irwan Hidayat -presiden direktur Sido Muncul- katakan. Ada pesan dari Tuhan saat matahari terbit dari timur, lalu tergelincir di barat. Kodrat alam demikianlah yang sejatinya diikuti dalam pola pembangunan di Indonesia ini. Dengan membangun dari timur, dan andai emas di Papua lebih dahulu kita kelola, dia percaya Indonesia -yang sudah kaya- akan lebih kaya saat ini.
Saya ingin mengikuti kodrat alam itu. Baru sebatas meracau. Memimpikan.
Setiap bangun dari tidur, saat membuka mata, ingin rasanya selalu memulai pagi di suatu tempat di timur. Bermain kecipak air di tepian Pulau Rumberpon. Sarapan kudapan kue kenari di Banda Neira. Basah-basahan di Takabonerate. Mencumbu terbitnya matahari dari puncak Kelimutu. Olahraga pagi ke air terjun Matayangu, Manupeu-Tanah Daru.
Duhai Gusti Pangeran, Pencipta semesta, Pencipta nusantara. Ingin rasanya hamba berumur panjang. (*)
Foto sampul:
Bocah-bocah kampung Komodo, Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur
Tinggalkan Balasan